Kalender Bali Digital - Sabtu, 01 Juli 2028

Kalender Bali Digital (Sabtu, 01 Juli 2028) lengkap dengan informasi hari libur nasional, rerahinan, ala ayuning dewasa, dauh ayu. purnama, tilem dan kajeng kliwon.

Rincian Wewaran

Wuku

Wayang

Ingkel

Mina

Jejepan

Sato

Fase Bulan

Penanggal 9

Wewaran Nama Urip
Triwara Kajeng 7
Caturwara Jaya 1
Pancawara Kliwon 8
Sadwara Urukung 5
Saptawara Saniscara 9
Astawara Guru 8
Sangawara Erangan 1
Dasawara Eraja 8

Ala Ayuning Dewasa

Carik Walangati

Tidak baik untuk melakukan pernikahan/wiwaha, atiwa-tiwa/ngaben dan membangun rumah.

Gagak Anungsang Pati

Tidak baik melakukan upacara membakar mayat, atiwa-tiwa

Geheng Manyinget

Tidak baik untuk segala pekerjaan yang penting-penting termasuk melakukan yadnya karena banyak ganguan.

Kajeng Kliwon Enyitan

Baik untuk memulai membuat sesikepan atau sesuatu yang berkekuatan gaib

Kajeng Rendetan

Baik untuk menanam tumbuhan yang menghasilkan buah.

Kala Katemu

Baik untuk menangkap ikan, berburu, mapikat, memasang jerat, kungkungan, mangadakan pertemuan.

Kala Kutila Manik

Baik untuk membuat ranjau, pagar, rintangan, lubang penghalang maupun pemisah, alat perangkap, upacara Bhuta Yadnya.

Kala Sor

Tidak baik untuk bekerja hubungannya dengan dengan tanah seperti membajak, bercocok tanam, membuat terowongan.

Kala Sungsang

Mengandung sifat/unsur terbalik, bertentangan, kontras. Tidak baik untuk melakukan karya ayu atau yadnya

Pepedan

Baik untuk membuka lahan pertanian baru. Tidak baik untuk membuat peralatan dari besi.

Purwanin Dina

Tidak baik sebagai dewasa ayu

Salah Wadi

Tidak baik untuk melakukan Manusa Yadnya (wiwaha, mapendes, potong rambut dll.) Pitra Yadnya (Penguburan, atiwa-tiwa/ngaben, nyekah, ngasti dll).

Lintang

Pagelangan

"Sangat cekatan, pintar mencari peluang bisnis/uang, namun perasaannya sering was-was atau khawatir."

Total Urip

Kajeng Kliwon
Total Urip (Saptawara + Pancawara) 17

Event / Rerahinan Hari Ini

Bali

Tumpek Wayang

Tumpek Wayang datang setiap Saniscara atau Sabtu Kliwon wuku Wayang. Menurut kepercayaan orang Bali, wuku Wayang dikenal sebagai hari yang keramat. Konon, Bhatara Siwa memberi izin kepada Dewa Kala (Bhuta Kala) untuk memangsa orang-orang yang dilahirkan pada wuku Wayang.

Anak yang lahir pada wuku Wayang biasanya melakukan upacara ruwatan dengan pementasan Wayang Sapuh Leger. Sapuh Leger sendiri memiliki makna pembersihan kotoran atau mala terhadap anak-anak yang lahir pada wuku Wayang.

Pemujaan saat Tumpek Wayang ditujukan kepada Sang Hyang Iswara melalui persembahan sesajen terhadap tuah pratima-pratima dan wayang, tetabuhan seperti gong, gender, angklung, dan lainnya. Oleh karena itu, Tumpek Wayang sendiri juga diartikan sebagai penghormatan terhadap seni dan keindahan.

Bali

Kajeng Kliwon

Kajeng Kliwon merupakan hari yang perhitungannya jatuh pada Tri Wara yaitu Kajeng dan Panca Wara yaitu Kliwon. Pertemuan antara Kajeng dengan Kliwon, diyakini sebagai saat energi alam semesta yang memiliki unsur dualitas bertemu satu sama lainnya. Energi dalam alam semesta yang ada di Bhuana Agung semuanya terealisasi dalam Bhuana Alit atau tubuh manusia itu sendiri.

Rahinan Kajeng Kliwon diperingati setiap 15 hari sekali, dan dapat dibagi menjadi 3, yaitu:

  • Kajeng Kliwon Uwudan (Kajeng Kliwon setelah bulan purnama)
  • Kajeng Kliwon Enyitan (Kajeng kliwon setelah bulan mati /tilem)
  • Kajeng Kliwon Pamelastali (Watugunung Runtuh,yang datang setiap 6 bulan sekali)


Pada zaman dulu ada kepercayaan masyarakat Bali untuk menetralisir suatu penyakit pada hari Kajeng kliwon. Maksudnya jika ada orang yang menderita sakit menahun seperti; Koreng, Gondongan, Bisul, yang tidak sembuh- sembuh. Maka sakit itu bisa dibuang. dengan cara menghaturkan segehan/ blabaran di penataran agung atau di pertigaan agung, lengkap dengan banten yang telah ditentukan. Bisanya dipilih pada hari kajeng kliwon pamelestali (5 hari sebelum piodalan Sang Hyang Haji Saraswati) ,yang disebut Watugunung Runtuh.

Makna Kajeng Kliwon
Rahina Kajeng Kliwon diperingati sebagai hari turunnya para bhuta untuk mencari orang yang tidak melaksanakan dharma agama dan pada hari ini pula para bhuta muncul menilai manusia yang melaksanakan dharma. Diyakini pada Kajeng Kliwon hendaknya menghaturkan segehan mancawarna. Tetabuhannya adalah tuak/ arak berem. Di bagian atas, di ambang pintu gerbang (lebuh) harus dihaturkan canang burat wangi dan canang yasa. Semuanya itu dipersembahkan kepada Ida Sang Hyang Durgha Dewi.

Segehan dihaturkan di tiga tempat yang berbeda yaitu: halaman Sanggah atau Mrajan, atau di depan pelinggih pengaruman, dan ini di tujukan pada Sang Bhuta Bhucari.

Kemudian di halaman rumah atau pekarangan rumah tempat tinggal, dan ini ditujukan kepada Sang Kala Bhucari.

Kemudian yang terakhir adalah dihaturkan di depan pintu gerbang pekarangan rumah atau di luar pintu rumah yang terluar, ini ditujukan kepada Sang Durgha Bhucari.

Maksud dan tujuan menghaturkan segehan ini merupakan perwujudan bhakti dan sradha kita kepada Hyang Siwa (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) telah mengembalikan (Somya) Sang Tiga Bhucari. Berarti kita telah mengembalikan keseimbangan alam niskala dari alam bhuta menjadi alam dewa (penuh sinar).

Pada dasarnya hari Kajeng Kliwon merupakan hari yang sangat keramat, karena kekuatan negatif dari dalam diri maupun dari luar manusia amat mudah muncul dan mengganggu kehidupan manusia. Jadi dapat diambil kesimpulan, adanya peringatan dan upacara yadnya pada hari Kajeng Kliwon ini, dengan harapan bahwa baik secara sekala maupun niskala dunia ataupun alam semesta ini tetap menjadi seimbang.