Kalender Bali Digital - Sabtu, 17 Juli 2027

Kalender Bali Digital (Sabtu, 17 Juli 2027) lengkap dengan informasi hari libur nasional, rerahinan, ala ayuning dewasa, dauh ayu. purnama, tilem dan kajeng kliwon.

Rincian Wewaran

Wuku

Wariga

Ingkel

Wong

Jejepan

Mina

Fase Bulan

Penanggal 14

Wewaran Nama Urip
Triwara Pasah 9
Caturwara Sri 6
Pancawara Kliwon 8
Sadwara Tungleh 7
Saptawara Saniscara 9
Astawara Sri 6
Sangawara Gigis 9
Dasawara Eraja 8

Ala Ayuning Dewasa

Banyu Urug

Baik untuk membuat bendungan. Tidak baik untuk membuat sumur.

Carik Walangati

Tidak baik untuk melakukan pernikahan/wiwaha, atiwa-tiwa/ngaben dan membangun rumah.

Kala Bancaran

Baik untuk membuat senjata, taji, pengiris (pisau besar untuk mengiris atau untuk mengadap nira).

Kala Geger

Baik untuk membuat alat-alat penangkap ikan, membuat kentongan, cagcag (perkakas tenun), kroncongan (genta sampi dari kayu), genta (bajra), kendang (bedug), gambelan, dan alat bunyi-bunyian lainnya.

Kala Matampak

Baik untuk menanam segala sesuatu (bercocok tanam).

Kala Sarang

Mengandung sifat boros/terapas. Tidak baik untuk berbelanja

Kala Tampak

Tidak baik untuk dewasa nikah (perkawinan).

Panca Prawani

Tidak baik dipakai dewasa ayu.

Pepedan

Baik untuk membuka lahan pertanian baru. Tidak baik untuk membuat peralatan dari besi.

Purwani

Tidak baik dipakai dewasa.

Purwanin Dina

Tidak baik sebagai dewasa ayu

Rangda Tiga

Tidak baik melakukan upacara pawiwahan.

Sri Tumpuk

Baik untuk memcari burung (mepikat).

Lintang

Pagelangan

"Sangat cekatan, pintar mencari peluang bisnis/uang, namun perasaannya sering was-was atau khawatir."

Total Urip

Total Urip (Saptawara + Pancawara) 17

Event / Rerahinan Hari Ini

Bali

Tumpek Bubuh

Tumpek Wariga jatuh setiap Sabtu Kliwon Wuku Wariga atau 25 hari sebelum Hari Raya Galungan. Saat Tumpek Wariga, pemujaan dilakukan terhadap Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Sangkara atau dikenal juga sebagai dewa kesuburan dan tumbuh-tumbuhan.

Saat Tumpek Wariga, upacara umumnya dilakukan di kebun atau tegalan milik warga. Umat Hindu di Bali menghaturkan sesaji berupa canang dan bubur dari tepung beras yang dipersembahkan untuk Dewa Sangkara, manifestasi Ida Sang Hyang Widhi sebagai dewa tumbuh-tumbuhan.

Bubur tersebut kemudian ditempelkan pada pohon setelah ditoreh sedikit sembari mengucapkan sesapa:

"Kaki kaki, Nini nini, Sarwa tumuwuh. Niki tiyang ngaturin bubuh mangda ledang tumbuh subur, malih selae lemeng Galungan. Mabuah apang nged, nged, nged..."