Kalender Bali Digital - Sabtu, 10 Oktober 2026
Kalender Bali Digital (Sabtu, 10 Oktober 2026) lengkap dengan informasi hari libur nasional, rerahinan, ala ayuning dewasa, dauh ayu. purnama, tilem dan kajeng kliwon.Rincian Wewaran
Wayang
Mina
Sato
Pangelong 14
| Wewaran | Nama | Urip |
|---|---|---|
| Triwara | Kajeng | 7 |
| Caturwara | Jaya | 1 |
| Pancawara | Kliwon | 8 |
| Sadwara | Urukung | 5 |
| Saptawara | Saniscara | 9 |
| Astawara | Guru | 8 |
| Sangawara | Erangan | 1 |
| Dasawara | Eraja | 8 |
Ala Ayuning Dewasa
Carik Walangati
Tidak baik untuk melakukan pernikahan/wiwaha, atiwa-tiwa/ngaben dan membangun rumah.
Gagak Anungsang Pati
Tidak baik melakukan upacara membakar mayat, atiwa-tiwa
Kajeng Uwudan
Tidak baik untuk menanam dan memetik tanaman.
Kala Katemu
Baik untuk menangkap ikan, berburu, mapikat, memasang jerat, kungkungan, mangadakan pertemuan.
Kala Kutila Manik
Baik untuk membuat ranjau, pagar, rintangan, lubang penghalang maupun pemisah, alat perangkap, upacara Bhuta Yadnya.
Kala Sor
Tidak baik untuk bekerja hubungannya dengan dengan tanah seperti membajak, bercocok tanam, membuat terowongan.
Kala Sungsang
Mengandung sifat/unsur terbalik, bertentangan, kontras. Tidak baik untuk melakukan karya ayu atau yadnya
Panca Prawani
Tidak baik dipakai dewasa ayu.
Pepedan
Baik untuk membuka lahan pertanian baru. Tidak baik untuk membuat peralatan dari besi.
Purwani
Tidak baik dipakai dewasa.
Purwanin Dina
Tidak baik sebagai dewasa ayu
Salah Wadi
Tidak baik untuk melakukan Manusa Yadnya (wiwaha, mapendes, potong rambut dll.) Pitra Yadnya (Penguburan, atiwa-tiwa/ngaben, nyekah, ngasti dll).
Lintang
Pagelangan
"Sangat cekatan, pintar mencari peluang bisnis/uang, namun perasaannya sering was-was atau khawatir."
Total Urip
Event / Rerahinan Hari Ini
Kajeng Kliwon
Kajeng Kliwon dalam tradisi Hindu di Bali merupakan hari suci pertemuan Triwara (Kajeng) dan Pancawara (Kliwon) yang diperingati setiap 15 hari.
Terdapat tiga jenis utama Kajeng Kliwon, yaitu Kajeng Kliwon Uwudan (setelah purnama), Kajeng Kliwon Enyitan (setelah tilem), dan Kajeng Kliwon Pamelastali (watugunung runtuh, setiap 210 hari).
Berikut adalah rincian jenis-jenis Kajeng Kliwon:
- Kajeng Kliwon Uwudan
Jatuh setelah hari Purnama (bulan utuh).
Sering dikaitkan dengan intensitas energi spiritual tinggi, meditasi, dan penyucian diri. - Kajeng Kliwon Enyitan
Jatuh setelah hari Tilem (bulan mati/gelap).
Dianggap sebagai waktu yang magis dan baik untuk membuat sarana magis atau pengobatan. - Kajeng Kliwon Pamelastali (Watugunung Runtuh)
Jatuh setiap 210 hari sekali (wuku watugunung).
Dianggap sebagai puncak dari hari Kajeng Kliwon yang memiliki nilai kesucian sangat tinggi.
Tumpek Wayang
Tumpek Wayang datang setiap Saniscara atau Sabtu Kliwon wuku Wayang. Menurut kepercayaan orang Bali, wuku Wayang dikenal sebagai hari yang keramat. Konon, Bhatara Siwa memberi izin kepada Dewa Kala (Bhuta Kala) untuk memangsa orang-orang yang dilahirkan pada wuku Wayang.
Anak yang lahir pada wuku Wayang biasanya melakukan upacara ruwatan dengan pementasan Wayang Sapuh Leger. Sapuh Leger sendiri memiliki makna pembersihan kotoran atau mala terhadap anak-anak yang lahir pada wuku Wayang.
Pemujaan saat Tumpek Wayang ditujukan kepada Sang Hyang Iswara melalui persembahan sesajen terhadap tuah pratima-pratima dan wayang, tetabuhan seperti gong, gender, angklung, dan lainnya. Oleh karena itu, Tumpek Wayang sendiri juga diartikan sebagai penghormatan terhadap seni dan keindahan.
Kajeng Kliwon
Kajeng Kliwon merupakan hari yang perhitungannya jatuh pada Tri Wara yaitu Kajeng dan Panca Wara yaitu Kliwon. Pertemuan antara Kajeng dengan Kliwon, diyakini sebagai saat energi alam semesta yang memiliki unsur dualitas bertemu satu sama lainnya. Energi dalam alam semesta yang ada di Bhuana Agung semuanya terealisasi dalam Bhuana Alit atau tubuh manusia itu sendiri.
Rahinan Kajeng Kliwon diperingati setiap 15 hari sekali, dan dapat dibagi menjadi 3, yaitu:
- Kajeng Kliwon Uwudan (Kajeng Kliwon setelah bulan purnama)
- Kajeng Kliwon Enyitan (Kajeng kliwon setelah bulan mati /tilem)
- Kajeng Kliwon Pamelastali (Watugunung Runtuh,yang datang setiap 6 bulan sekali)
Pada zaman dulu ada kepercayaan masyarakat Bali untuk menetralisir suatu penyakit pada hari Kajeng kliwon. Maksudnya jika ada orang yang menderita sakit menahun seperti; Koreng, Gondongan, Bisul, yang tidak sembuh- sembuh. Maka sakit itu bisa dibuang. dengan cara menghaturkan segehan/ blabaran di penataran agung atau di pertigaan agung, lengkap dengan banten yang telah ditentukan. Bisanya dipilih pada hari kajeng kliwon pamelestali (5 hari sebelum piodalan Sang Hyang Haji Saraswati) ,yang disebut Watugunung Runtuh.
Makna Kajeng Kliwon
Rahina Kajeng Kliwon diperingati sebagai hari turunnya para bhuta untuk mencari orang yang tidak melaksanakan dharma agama dan pada hari ini pula para bhuta muncul menilai manusia yang melaksanakan dharma. Diyakini pada Kajeng Kliwon hendaknya menghaturkan segehan mancawarna. Tetabuhannya adalah tuak/ arak berem. Di bagian atas, di ambang pintu gerbang (lebuh) harus dihaturkan canang burat wangi dan canang yasa. Semuanya itu dipersembahkan kepada Ida Sang Hyang Durgha Dewi.
Segehan dihaturkan di tiga tempat yang berbeda yaitu: halaman Sanggah atau Mrajan, atau di depan pelinggih pengaruman, dan ini di tujukan pada Sang Bhuta Bhucari.
Kemudian di halaman rumah atau pekarangan rumah tempat tinggal, dan ini ditujukan kepada Sang Kala Bhucari.
Kemudian yang terakhir adalah dihaturkan di depan pintu gerbang pekarangan rumah atau di luar pintu rumah yang terluar, ini ditujukan kepada Sang Durgha Bhucari.
Maksud dan tujuan menghaturkan segehan ini merupakan perwujudan bhakti dan sradha kita kepada Hyang Siwa (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) telah mengembalikan (Somya) Sang Tiga Bhucari. Berarti kita telah mengembalikan keseimbangan alam niskala dari alam bhuta menjadi alam dewa (penuh sinar).
Pada dasarnya hari Kajeng Kliwon merupakan hari yang sangat keramat, karena kekuatan negatif dari dalam diri maupun dari luar manusia amat mudah muncul dan mengganggu kehidupan manusia. Jadi dapat diambil kesimpulan, adanya peringatan dan upacara yadnya pada hari Kajeng Kliwon ini, dengan harapan bahwa baik secara sekala maupun niskala dunia ataupun alam semesta ini tetap menjadi seimbang.
Dauh Ayu
Rentang waktu (WITA) yang dinilai baik untuk melaksanakan kegiatan penting pada hari ini: